DUNIA ISLAM

MUI SUMSEL GELAR MAJELIS ILMU, ZIKIR DAN UKHUWAH (MIZIUMUISS), HADIRKAN ULAMA AL-AZHAR MESIR DAN LAUNCHING PROGRAM DAKWAH

MUI SUMSEL GELAR MAJELIS ILMU, ZIKIR DAN UKHUWAH (MIZIUMUISS), HADIRKAN ULAMA AL-AZHAR MESIR DAN LAUNCHING PROGRAM DAKWAH

Satujalan.com, PALEMBANG, Minggu, 8 November 2026 – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sumatera Selatan menggelar kegiatan Majelis Ilmu, Zikir dan Ukhuwah MUI Sumsel (MiziuMUISS) di Masjid Taqwa Palembang, Minggu (8/11/2026).

Kegiatan yang mengangkat tema “Wasathiyah Islam: Jalan Tengah dalam Beragama, Bermasyarakat dan Bernegara” ini menghadirkan ulama Universitas Al-Azhar Asy-Syarief Kairo, Mesir, Syaikh Hisyam Kamil Hamid Musa Al-Azhary. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi momentum penguatan literasi keislaman dan pendalaman etika berfatwa melalui kajian kitab bersanad Shina’at al-Ifta’.

Acara dipandu oleh H. Nasrun Romli, Sekretaris Komisi Dakwah MUI Sumsel. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Kalam Ilahi oleh Qori H. Dimro Ayub, S.Ag., kemudian dilanjutkan dengan sambutan panitia yang disampaikan oleh H. Ahmad Soleh Sakni, Lc., MA., Ketua MUI Sumsel Bidang Dakwah.

Dalam sambutannya, Ahmad Soleh Sakni menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari ikhtiar Komisi Dakwah MUI Sumsel untuk menghadirkan ruang pembelajaran keislaman yang berkelanjutan, memperkuat ukhuwah, serta meningkatkan kualitas pemahaman dan pengamalan ajaran Islam di tengah masyarakat.

Selanjutnya, Ketua Umum MUI Sumatera Selatan, Dr. KH. Supadmi Kohar, MM., menyampaikan sambutan sekaligus menyematkan syal kehormatan kepada Syaikh Hisyam Kamil sebagai bentuk penghormatan dan penyambutan atas kehadiran ulama Al-Azhar tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum MUI Sumsel secara resmi melaunching MiziuMUISS (Majelis Ilmu, Zikir dan Ukhuwah MUI Sumsel). Program ini digagas oleh Komisi Dakwah MUI Sumsel sebagai wadah penguatan dakwah, pendidikan keagamaan, majelis keilmuan, zikir, serta silaturahmi umat. Program tersebut diharapkan menjadi agenda dakwah berkelanjutan yang mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

Sambutan berikutnya disampaikan oleh perwakilan Gubernur Sumatera Selatan, Dr. H. Muhammad Sunarto. Dalam sambutannya, ia menyampaikan salam dari Gubernur Sumatera Selatan sekaligus memberikan apresiasi atas inisiatif MUI Sumsel yang terus menghadirkan kegiatan keagamaan, pendidikan, dan penguatan moderasi beragama.

Ia juga menyampaikan bahwa kegiatan semacam ini memiliki arti penting dalam membangun masyarakat Sumatera Selatan yang religius, harmonis, dan menjunjung tinggi persatuan. Atas nama Gubernur Sumatera Selatan, ia kemudian membuka secara resmi kegiatan tersebut.

Syaikh Hisyam Kamil: Sikap Ekstrem Lahir dari Kebodohan

Memasuki acara inti, Syaikh Hisyam Kamil Hamid Musa Al-Azhary menyampaikan materi bertema “Wasathiyah Islam: Jalan Tengah dalam Beragama, Bermasyarakat dan Bernegara”.

Pemaparan materi diterjemahkan oleh Ust. H. Muhammad Iqbal Harun, Lc., salah seorang alumni Universitas Al-Azhar Asy-Syarief yang juga merupakan pengurus Komisi Dakwah MUI Sumsel.

Dalam pemaparannya, Syaikh Hisyam menegaskan bahwa sikap ekstrem dalam beragama pada dasarnya dapat lahir dari kebodohan dan lemahnya pemahaman terhadap hakikat ajaran Islam. Islam merupakan agama yang mengajarkan keseimbangan, keadilan, kasih sayang, serta sikap proporsional dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

Beliau juga menjelaskan bahwa salah satu bukti kuatnya karakter wasathiyah dalam tradisi keilmuan Islam dapat dilihat dari berkembang dan diterimanya ajaran empat imam mazhab fikih, yaitu Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad bin Hanbal, di berbagai belahan dunia Islam.

Penerimaan luas terhadap empat mazhab tersebut tidak terlepas dari kekuatan metodologi keilmuan, kedalaman pemahaman terhadap dalil, serta karakter ajaran yang memberikan ruang keseimbangan dan kemudahan bagi umat dalam menjalankan agama.

Sebaliknya, sikap ekstrem dan berlebihan dalam beragama dapat merusak tatanan kehidupan umat, menimbulkan perpecahan, serta menjauhkan masyarakat dari nilai-nilai luhur Islam.

Pengayaan Keilmuan: Memperdalam Etika dan Seni Berfatwa

Setelah penyampaian materi utama, kegiatan dilanjutkan dengan sesi pengayaan keilmuan yang secara khusus membahas persoalan fatwa dan metodologi berfatwa (Shina’at al-Ifta’).

Kajian ini memfokuskan pembahasan pada kitab *Shina’at al-Ifta’* karya Syaikh Ali Jum’ah, ulama terkemuka Universitas Al-Azhar Asy-Syarief, Mesir.

Baca Juga  Senyum di Balik Lelah — Sehari Bersama Perempuan Penjaga Nyawa

Dalam sesi tersebut, peserta diajak memahami bahwa fatwa bukan sekadar menyampaikan jawaban hukum atas persoalan keagamaan, melainkan sebuah proses keilmuan yang membutuhkan penguasaan terhadap sumber-sumber hukum Islam, pemahaman terhadap realitas masyarakat, ketelitian metodologis, serta tanggung jawab moral seorang mufti.

Etika berfatwa menjadi perhatian penting agar setiap produk pemikiran dan jawaban keagamaan senantiasa menghadirkan kemaslahatan, menjaga keharmonisan sosial, serta tidak melahirkan kegaduhan dan perpecahan di tengah umat.

Kajian berlangsung kurang lebih dua jam dan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab yang berlangsung interaktif. Para peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk memperdalam berbagai persoalan terkait wasathiyah Islam dan metodologi fatwa.

Sebagai penutup rangkaian kajian kitab bersanad, dilaksanakan pemberian ijazah kitab secara simbolis kepada perwakilan peserta. Hal ini menjadi bentuk apresiasi sekaligus penguatan tradisi transmisi keilmuan Islam yang memiliki kesinambungan sanad.

MiziuMUISS sebagai Gerakan Penguatan Dakwah MUI Sumsel

Peluncuran MiziuMUISS menjadi salah satu momentum penting dalam kegiatan tersebut. Program ini mengusung tagline:

“Majelis Ilmu, Zikir dan Ukhuwah MUI Sumsel: Mencerahkan Akal, Menenteramkan Jiwa dan Mengokohkan Ukhuwah.”

Kehadirannya diharapkan tidak hanya menjadi forum kajian keagamaan, tetapi juga berkembang menjadi gerakan dakwah yang mengintegrasikan ilmu, zikir, dan ukhuwah dalam membangun kehidupan umat yang lebih baik.

Melalui program ini, MUI Sumsel berkomitmen memperkuat peran dakwah yang mencerahkan, menenteramkan, dan mempersatukan umat. Tradisi keilmuan ulama, nilai-nilai wasathiyah Islam, serta penguatan etika dalam kehidupan beragama diharapkan semakin tumbuh dan berkembang di Sumatera Selatan.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Program Kegiatan Bersama Lintas Bidang dan Komisi MUI Sumsel Tahun 2026. Sekaligus menjadi langkah nyata Komisi Dakwah MUI Sumsel dalam memperluas ruang dakwah yang edukatif, inklusif, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.

Laporan: H. Ahmad Soleh Sakni

Editor; Bang Bangun Lubis

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button