DUNIA ISLAM

Senyum di Balik Lelah — Sehari Bersama Perempuan Penjaga Nyawa

Oleh: Bangun Lubis ( Wartawa Muslim )

FAJAR baru saja merekah di ufuk timur. Dari jendela kos yang sempit, Siti—seorang perawat rumah sakit—melirik jam dinding. Pukul 05.00. Ia menarik napas panjang, lalu berdiri.

Malam tadi tidurnya hanya tiga jam, tapi pagi ini ia harus kembali bertugas. Di wastafel mungil, ia membasuh wajah, mencoba mengusir sisa kantuk, lalu berwudhu.

“Ya Allah, kuatkan langkah ini. Semoga setiap yang kulakukan hari ini menjadi amal kebaikan,” bisiknya lirih.

07.00 — Lorong Panjang yang Tak Pernah Sepi

Siti tiba di rumah sakit, mengganti seragamnya dengan baju putih bersih. Di lorong panjang yang bau antiseptik, suara monitor detak jantung berpadu dengan langkah kaki para tenaga medis. Ada pasien yang tersenyum menyapa, ada yang terbaring lemah tanpa daya.

Di ruang pertama, seorang ibu muda memanggilnya,

“Mbak Siti, tolong lihat anak saya… dia demam tinggi semalaman.”

Siti tersenyum lembut. “Baik, Bu. Mari kita periksa dulu ya,” jawabnya sambil menyiapkan termometer. Senyum pasien kecil itu seolah menghapus sedikit rasa kantuknya.

09.30 — Saat Sabar Diuji

Di ruang sebelah, seorang pasien paruh baya terus mengeluh.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button