Menikmati “Kabad”: Mengapa Hidup Memang Dirancang untuk Susah Payah?
Al-Qur'an Surat Al-Balad ayat 4 yang berarti "Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah"

Menikmati “Kabad”: Mengapa Hidup Memang Dirancang untuk Susah Payah?
Oleh: Bangun Lubis
Ada satu pemandangan yang selalu berulang setiap kali sebuah kehidupan baru dimulai di muka bumi: seorang bayi yang baru lahir pasti menangis. Ia tidak tertawa, tidak pula terenyum. Mengapa? Secara biologis, itu adalah tanda berfungsinya organ pernapasan.
Namun secara filosofis dan spiritual, tangisan pertama itu seolah menjadi pengumuman resmi bahwa sang manusia telah menginjakkan kakinya di sebuah teater bernama “dunia“—tempat di mana perjuangan dan susah payah dimulai.
Di dalam kitab suci Al-Qur’an, hakikat eksistensi ini telah dikunci dengan sebuah kalimat yang sangat pendek namun bergetar hebat di dalam dada: *“Laqad khalaqnal-insāna fī kabad”*—Sungguh, Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (QS. Al-Balad: 4).
Jadi janganlah bersedih, Sebab Bersama Kesusahan Hadir Kemudahan
Kata kabad dalam ayat tersebut bukan sekadar berarti sedih atau menderita. Ia merangkum seluruh spektrum keletihan: lelahnya fisik mencari nafkah, beratnya pikiran menjaga integritas, hingga pergulatan batin melawan ego diri. Hidup, sejak embrio hingga sakaratul maut, adalah sebuah rangkaian panjang dari jerih payah yang tidak ada putusnya.
Lalu, mengapa Tuhan menciptakan kita dalam cetak biru yang penuh kesusahan seperti ini? Mengapa dunia tidak dijadikan tempat yang santai dan penuh kenyamanan saja?
Dunia Bukan Panggung Kemapanan
Kekeliruan terbesar kita sebagai manusia sering kali adalah menuntut dunia memberikan fungsi yang bukan miliknya. Kita kerap memperlakukan dunia seolah-olah ia adalah surga—tempat di mana semua keinginan harus terwujud, semua rencana harus mulus, dan semua kenyamanan harus abadi. Ketika realita berkata sebaliknya, kita kecewa, stres, lalu frustrasi.
Padahal, watak asli dunia memang adalah tempat berlelah-lelah. Dunia adalah laboratorium ujian.
Sama seperti sebilah besi yang tidak akan pernah menjadi pedang samurai yang tajam dan bernilai tinggi jika tidak dibakar dalam api yang membara dan ditempa dengan pukulan berkali-kali. Begitu pula dengan jiwa manusia. Kesusahan, hambatan, dan air mata adalah “api dan pukulan” yang sengaja dihadirkan untuk membentuk karakter kita. Tanpa kesusahan, kita tidak akan pernah mengenal apa itu arti ketangguhan, kesabaran, dan kebijaksanaan.
“Alarm” Spiritual yang Lembut
Dari sudut pandang spiritual, kesusahan sering kali bekerja sebagai sebuah alarm pembangun tidur yang sangat lembut. Manusia, ketika berada dalam puncak kenyamanan dan kelapangan, memiliki kecenderungan alami untuk lalai. Kita mudah merasa bisa mengendalikan segala hal, sombong, dan perlahan melupakan hakikat bahwa kita ini lemah.
Saat kesusahan datang menghantam—entah lewat kegagalan bisnis, pengkhianatan, atau rasa sakit—di situlah ego manusia runtuh. Pada titik terendah itu, manusia dipaksa untuk mendongak ke atas, bersujud lebih lama, dan mengakui keterbatasannya di hadapan Sang Pencipta. Kesusahan adalah cara Tuhan memeluk hamba-Nya agar tidak tersesat terlalu jauh dalam fatamorgana dunia.
Menemukan “Kemudahan” di Dalam “Kesulitan”
Menariknya, Tuhan tidak pernah meninggalkan manusia dalam keletihan yang mutlak. Dalam Surah Al-Insyirah, ditegaskan bahwa “Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.” Perhatikan pilihan katanya: bersama, bukan setelah.
Artinya, di dalam setiap paket kesusahan yang kita pikul hari ini, Tuhan sebenarnya sudah menyelipkan solusi, hikmah, dan jalan keluar di dalamnya. Tugas kita bukan meratapi paket kesusahan tersebut, melainkan mencarinya dengan kacamata iman dan optimisme. Kesusahan itulah yang pada akhirnya membuat momen-momen ketenangan dan kebahagiaan sekecil apa pun menjadi terasa jauh lebih mewah dan bernilai.
Maka, bagi siapa pun kita hari ini—para pekerja yang memeras keringat di bawah terik matahari, para pemikir yang kepalanya penuh dengan beban tanggung jawab, atau siapa saja yang sedang diuji dengan badai kehidupan—pahami dan terimalah realita ini dengan lapang dada: Hidup ini memang tempat berjuang.
Kesusahan bukanlah tanda bahwa kita dikutuk, melainkan bukti otentik bahwa kita adalah manusia yang sedang bertumbuh. Istirahat yang sejati tidak akan pernah ada di dunia ini. Istirahat itu kelak, ketika kaki kita sudah menapak di tanah keabadian, di mana tidak ada lagi air mata dan rasa lelah.
Sebelum hari itu tiba, mari kita nikmati setiap jengkal susah payah ini dengan kepala tegak, sabar yang membentang, dan keyakinan bahwa setiap peluh tidak akan pernah sia-sia.
Journalism never dies, perjuangan hidup pun tak boleh padam. Tetaplah melangkah.



